Senin, 03 Oktober 2011

Koreng Wisata Indonesia

Mengandalkan modal keragaman budaya dan alam yang memikat tidak serta-merta membuat Indonesia menjadi mutiara pariwisata dunia. Banyak negara yang budaya serta alamnya biasa saja  membuktikan, bahwa strategi promosi-pencitraan yang tepat-gencar, infrastruktur ekonomi, sosial yang tertata dan toleransi, merupakan alat untuk mencapai sukses pariwisata. Saat ini, Indonesia menyerap sekitar 6 juta wisatawan mancanegara per tahun. Tapi jika melihat kekayaan budaya dan keindahan alam yang dimiliki Indonesia, saya pikir jumlah itu masih kurang. Kita bisa mencapai angka 10 kali lipat dari jumlah tersebut. kalau bicara potensi pariwisata, Indonesia itu sangat luar biasa. Lalu mengapa kondisi pariwisata Indonesia jauh dari kata 'luar biasa'?

Saya pikir, persoalan pertama adalah Brand Image. Kita harus mampu membentuk image yang baik. sebagai contoh, berbagai berita kerusuhan atau bencana alam di Indonesia. Tahukan kita bahwa berita tersebut ramai diperbincangkan di luar negeri ini? Memang benar terjadi bencana alam di Gunung Merapi di Indonesia, tapi berikan informasi pula bahwa Indonesia itu sangat luas. Dan bencana atau pun kerusuhan hanya terjadi di tempat tertentu bukan di seluruh Indonesia. Tapi di luar sana, yang terkesan adalah Indonesia mengalami bencana dan banyak kerusuhan. Kemampuan kita untuk meng-counter hal semacam ini masih sangat lemah. masih sering berpangku tangan. "ini kan tugas pemerintah", atau "masalah berita mah kan tugas wartawan". mau sampai kapan bersikap demikian? Counter tidak berarti menutupi fakta yang terjadi. Tapi, bagaimana meletakkan persoalan pada tempat yang tepat. Dan ini bukan hanya tugas Pemerintah dan wartawan. Kita pun bisa berpartisipasi via akun media sosial pribadi, misalnya.

Jika ada yang bertanya, "seberapa penting image itu?" Menurut saya sangat penting. Image adalah kemasan, Konten-yang dibungkus oleh kemasan-tentu juga sangat penting. Dan dalam hal Indonesia, itu sama sekali bukan masalah. Tapi yang terlihat lebih awal biasanya kemasan. Image penting karena merupakan yang pertama melekat dalam pikiran manusia. Selama ini kita tidak memiliki ikon wisata. Malaysia sudah lama memiliki ikon wisata sebagai 'Truly Asia'. Bahkan Yogyakarta yang notabenenya hanya sebuah daerah di negara Indonesia saja sudah memiliki ikon wisata yang menarik, 'Never Ending Asia'. Tapi Indonesia-nya sendiri malah tidak punya. Dan Image, ikon, tentu juga harus ditunjang oleh strategi promosi yang tepat. Coba tengok Malaysia. Lagi-lagi Malaysia lebih berani daripada Indonesia. Mereka berani mempromosikan diri ke CNN dan media mancanegara lainnya. mereka juga berani menggunakan konsultan promosi, anggaran promosi pun ditingkatkan. Sedikit ulasan tentang Brand Image ini saya tujukan Wabil khusus bagi bapak Menbudpar (Jaro Wacik) yang mungkin saja belum memahami hal semacam itu (siapa tahu ada anggota BIN yang membaca tulisan ini).

Perlu dipahami bahwa Fungsi ikon wisata adalah brand image, sebagai pengemas pasiwisata. Ikon Wisata menunjukkan image-nya seperti apa. Ikon Wisata haruslah singkat, padat, enak didengar dan memiliki makna yang mendalam. Contoh 'Never Ending Asia' milik Yogyakarta itu maknanya dalam dan enak didengar. Jika kementrian terkait mengalami kesulitan dalam menemukan ikon ini, saran saya, buat saja sayembara secara luas bagi seluruh masyarakat Indonesia (persis seperti kisah Cinderela) untuk membuat Brand Image Pariwisata Indonesia. Saya pikir 200 juta lebih ide sudah sangat cukup untuk kemudian masuk dalam proses seleksi.

Selanjutnya, daya saing pariwisata itu tidak hanya bergantung pada sumber daya budaya dan alamnya saja. Tapi juga pada infrastruktur, (misalnya, jalan atau bandar). Jika bandaranya tidak nyaman, banyak calo atau copet, parkir sembarangan, itu semua bisa membuat turis merasa tidak nyaman. Jalan yang berlubang, saluran air yang kotor, trotoar tidak terawat (atau bahkan tidak ada) juga membuat turis tidak nyaman. Baru saja tiba, kesan yang mereka dapat sudah tidak menyenangkan. Dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi banyak instansi, juga masyarakat.

Jika semua instansi bisa menyelesaikan tugasnya sesuai standar dengan baik dan rajin merawat (baik instansi terkait maupun masyarakat), itu sudah sangat mendukung bagi sektor kepariwisataan. Di Bandung ada Mang Udjo dengan saung angklungnya. Berkat jasa Mang Udjo-lah kini angklung bisa menjadi alat musik diatonik yang dapat dipakai untuk memainkan berbagai jenis lagu. Saungnya ramai dikunjungi oleh wisatawan, setiap akhir pekan banyak sekali bus yang datang. Tapi bayangkan, jika akses jalan dan saluran air ke lokasi tersebut dibuat lebih baik, tentu akan semakin banyak orang yang datang. Dan bagi pemerintah Bandung, itu berarti pemasukan yang lebih besar toh? karena setelah berkunjung ke Mang Udjo, turis akan makan dan berbelanja ke tempat lain.

Negara Malaysia terlihat asik untuk saya jadikan direct competitor atau minimal pembanding bagi masalah pariwisata di Indonesia. Malaysia bisa menjual program pariwisata sederhana seperti menonton beruk memanjat pohon kelapa di pedesaan. Coba lihat, ini semua tentang kemampuan menggali, mengemas dan memasarkan produk pariwisata. Bagaimana dengan kita? Jika bicara tentang kemampuan, kita bagus sekali. Contoh, banyak mahasiswa UI yang melakukan tugas kuliah ke Yogyakarta dan mampu membuat berbagai program pariwisata yang kreatif. Itu baru UI, bagaimana jika UGM dan Unpad melakukan hal yang sama? Jujur, untuk masalah itu kita tidak kalah. Tapi kemampuan menggali dan mengemas produk pariwisata juga harus ditunjang dengan promosi yang baik agar bisa memasarkan produk itu tidak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri.

Sekedar berbagi ilmu, dalam laporan tentang Travel and Tourism Competitiveness 2009. Dari 133 negara yang masuk dalam penilaian, World Economic Forum menempatkan Indonesia di peringkat ke-81. Posisi itu jauh di bawah sesama ASEAN. Singapura menempati peringkat ke-10, Malaysia menempati peringkat ke-32 dan Thailand menempati peringkat ke-39. Padahal, jika dibandingkan dengan ketiga negara tadi, Indonesia jauh memiliki konten yang lebih beragam dan menarik. Indonesia bisa meraih poin yang lebih tinggi dalam parameter jumlah situs alam dan budaya warisan dunia. Indonesia dinilai rendah dalam banyak, seperti infrastruktur transportasi udara-darat-laut, keamanan, keselamatan, juga dalam hal kualitas lingkungan hidup. Sudikah Anda mendapat peringkat ke-81?

-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-

Senin, 08 November 2010

Eksistensi Budaya Lokal Dalam Pembentukan Identitas Bangsa

“Anak muda jaman sekarang sudah tidak nasionalis” (mak Asih, Bandung : 2006). Ini merupakan pernyataan dari seorang nenek yang biasa disapa mak Asih, dulu beliau adalah seorang pejuang, kini beliau tinggal di pinggiran kota Bandung dengan keadaan yang amat memprihatinkan dan sudah berusia 74 tahun. Dalam wujud aslinya, pernyataan tersebut disampaikan dalam bahasa daerah pasundan (sunda), sengaja kuterjemahkan agar lebih mudah untuk dipahami.

Berat rasanya untuk mengukuhkan pernyataan tersebut dengan pembenaran, tapi memang itu fakta yang kini hadir disekelilingku. Tapi aku tidak akan pernah menjustifikasi pribadi manapun untuk masuk dalam golongan tidak berjiwa nasionalis. Ada baiknya jika mereka sendiri yang menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan implisit dari mak Asih dengan penuh kesadaran dan kejujuran.

Faktanya, kini budaya lokal yang ada di Indonesia semakin terkontaminasi, terkikis, berangsur punah dan kalah oleh budaya asing. Hal ini dapat terlihat jelas dari minimnya wawasan anak muda Indonesia tentang kekayaan nusantara, minimnya minat anak muda Indonesia untuk mempelajari serta berusaha memajukan budaya bangsanya sendiri. Belum lagi jika melihat fakta yang kini semakin menjamur di kalangan anak muda, dimana mereka lebih bangga jika menjadi bagian dari budaya asing.

Budaya seharusnya menjadi kebanggan dan sebuah identitas dari suatu bangsa. Jika kita kembali berkaca pada eksistensi budaya kita dan mulai mempertanyakan seberapa banyak anak muda Indonesia yang masih mau mempelajari budaya lokal, maka dapat dipastikan kita akan terkejut dengan hasil yang didapat. Ada sedikit kelegaan, bahwa budaya lokal masih dipegang kuat oleh segelintir masyarakat yang tinggal di pelosok daerah, tapi bukan tidak mungkin jika dalam waktu dekat, budaya lokal yang masih dipegang kuat oleh segelintir masyarakat di pelosok daerah itu akan berangsur punah. Karena dominasi budaya asing semakin nyata hidup dan bereproduksi dalam jiwa anak muda Indonesia. Coba tengok gaya hidup masyarakat yang tinggal di perkotaan, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Pontianak, Surabaya, Makasar dan Jayapura. Mungkin bagi kota Jakarta yang katanya merupakan area yang dihuni oleh masyarakat heterososial, fenomena ini tidak terlalu menimbulkan keresahan. Tapi mengapa hal ini juga terjadi di berbagai kota lain yang notabenenya dihuni oleh masyarakat asli dari daerah itu sendiri. Lalu, invasi dari fenomena ini pun ternyata sudah mencapai daerah pinggiran kota bahkan pedesaan.

Sebagai contoh, saat ini anak muda Bandung (baik yang tinggal di kota maupun kabupaten plus desa), ternyata lebih memilih untuk mempelajari berbagai budaya asing yang katanya lebih modern dan futuristik. Katanya, budaya lokal seperti wayang ataupun musik daerah yang ada di tanah pasundan itu sudah ketinggalan jaman. Mereka lebih memilih gaya hidup santai dan berajojing ria di berbagai klub dan lounge yang belakangan ini semakin menjamur di kota Bandung.

Jakarta adalah kota metropolitan yang dihuni oleh masyarakat heterososial, jadi wajar saja jika masyarakatnya tidak mengenal budaya lokal. Pendapatku? Lucu. Budaya lokal seperti wayang ataupun musik daerah yang ada di tanah pasundan itu sudah ketinggalan jaman. Pendapatku? Lucu. Mengapa lucu? Bukankah memang itu fakta yang harus kita terima?

Pernah dengar kota Tokyo yang ada di Negara Jepang? Di Jepang, Tokyo merupakan kota metropolitan, ya.. sama seperti Jakarta. tapi disana, masyarakatnya memiliki kebanggaan yang tinggi pada budaya lokal mereka, disana masyarakatnya juga berlomba untuk mempelajari, mewariskan serta memajukan budaya lokal mereka, dan semua itu mereka lakukan dengan penuh kebanggan, tanpa ada rasa terpaksa apalagi malu. Lalu bagaimana dengan kota lain serta pedesaan yang ada di Jepang? Sudah dapat dipastikan mereka lebih bangga pada budaya lokal mereka. Bagaimana tidak, masyarakat Jepang yang tinggal di daerah metropolitan saja tidak sedikitpun melupakan budaya lokalnya, apalagi masyarakat daerah yang setiap hari bermobilisasi dengan warna budaya lokal mereka, sudah pasti mereka lebih bangga. Coba lihat, ternyata masyarakat Jepang sudah amat memahami pentingnya budaya dalam membentuk sebuah identitas bangsa. Dan hal tersebut tentu tidak diraih dengan mudah. sejarah telah mencatat semuanya. Bukankah kini anak muda Indonesia kerap merasa bangga saat mengenakan kimono? Bukankah kini anak muda Indonesia lebih merasa tinggi jika makan di restoran sushi? Dan tentu masih banyak ‘bukankah…’ lainnya yang berbau Japanisme.

Bukan tidak boleh untuk mengenal dan menikmati budaya asing, tapi jangan pernah melupakan siapa diri kita. Jika bukan kita yang memajukan budaya lokal Indonesia, lalu siapa lagi? Jika memang budaya lokal Indonesia itu ketinggalan jaman, lalu mengapa kita masih mengenalnya? Mengapa budaya lokal itu ada? Bukankah budaya lokal Indonesia itu sudah ada sejak dulu? Bukankah untuk mencapai jaman ini, budaya lokal itu sudah melewati berbagai jaman? Dan bukankah banyak wisatawan asing yang menyukai bahkan mencintai budaya lokal Indonesia? Lalu dimanakah materi yang dapat mengukuhkan pernyataan bahwa budaya lokal Indonesia itu ketinggalan jaman? Jika wisatawan asing saja bisa sampai mencintai budaya lokal Indonesia, mengapa kita (yang merupakan warga Negara Indonesia) tidak bisa?

Seharusnya budaya lokal menjadi nilai jual bagi Negara Indonesia di dunia Internasional, sehingga dapat meningkatkan devisa Negara. Dan untuk mencapai semua mimpi itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menanamkan rasa cinta pada budaya kita sendiri. Mari belajar dari keberhasilan Jepang. Rasa nasionalisme mereka telah melahirkan sebuah identitas bangsa yang menakjubkan di mata Internasional. Mari berjuang bersama agar budaya lokal kita tidak punah. Karena hilangnya budaya lokal suatu bangsa, sama saja dengan hilangnya identitas dari bangsa tersebut. Sudikah Anda menjadi bagian dari sebuah Negara yang miskin identitas?

-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-