Senin, 08 November 2010

Eksistensi Budaya Lokal Dalam Pembentukan Identitas Bangsa

“Anak muda jaman sekarang sudah tidak nasionalis” (mak Asih, Bandung : 2006). Ini merupakan pernyataan dari seorang nenek yang biasa disapa mak Asih, dulu beliau adalah seorang pejuang, kini beliau tinggal di pinggiran kota Bandung dengan keadaan yang amat memprihatinkan dan sudah berusia 74 tahun. Dalam wujud aslinya, pernyataan tersebut disampaikan dalam bahasa daerah pasundan (sunda), sengaja kuterjemahkan agar lebih mudah untuk dipahami.

Berat rasanya untuk mengukuhkan pernyataan tersebut dengan pembenaran, tapi memang itu fakta yang kini hadir disekelilingku. Tapi aku tidak akan pernah menjustifikasi pribadi manapun untuk masuk dalam golongan tidak berjiwa nasionalis. Ada baiknya jika mereka sendiri yang menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan implisit dari mak Asih dengan penuh kesadaran dan kejujuran.

Faktanya, kini budaya lokal yang ada di Indonesia semakin terkontaminasi, terkikis, berangsur punah dan kalah oleh budaya asing. Hal ini dapat terlihat jelas dari minimnya wawasan anak muda Indonesia tentang kekayaan nusantara, minimnya minat anak muda Indonesia untuk mempelajari serta berusaha memajukan budaya bangsanya sendiri. Belum lagi jika melihat fakta yang kini semakin menjamur di kalangan anak muda, dimana mereka lebih bangga jika menjadi bagian dari budaya asing.

Budaya seharusnya menjadi kebanggan dan sebuah identitas dari suatu bangsa. Jika kita kembali berkaca pada eksistensi budaya kita dan mulai mempertanyakan seberapa banyak anak muda Indonesia yang masih mau mempelajari budaya lokal, maka dapat dipastikan kita akan terkejut dengan hasil yang didapat. Ada sedikit kelegaan, bahwa budaya lokal masih dipegang kuat oleh segelintir masyarakat yang tinggal di pelosok daerah, tapi bukan tidak mungkin jika dalam waktu dekat, budaya lokal yang masih dipegang kuat oleh segelintir masyarakat di pelosok daerah itu akan berangsur punah. Karena dominasi budaya asing semakin nyata hidup dan bereproduksi dalam jiwa anak muda Indonesia. Coba tengok gaya hidup masyarakat yang tinggal di perkotaan, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Pontianak, Surabaya, Makasar dan Jayapura. Mungkin bagi kota Jakarta yang katanya merupakan area yang dihuni oleh masyarakat heterososial, fenomena ini tidak terlalu menimbulkan keresahan. Tapi mengapa hal ini juga terjadi di berbagai kota lain yang notabenenya dihuni oleh masyarakat asli dari daerah itu sendiri. Lalu, invasi dari fenomena ini pun ternyata sudah mencapai daerah pinggiran kota bahkan pedesaan.

Sebagai contoh, saat ini anak muda Bandung (baik yang tinggal di kota maupun kabupaten plus desa), ternyata lebih memilih untuk mempelajari berbagai budaya asing yang katanya lebih modern dan futuristik. Katanya, budaya lokal seperti wayang ataupun musik daerah yang ada di tanah pasundan itu sudah ketinggalan jaman. Mereka lebih memilih gaya hidup santai dan berajojing ria di berbagai klub dan lounge yang belakangan ini semakin menjamur di kota Bandung.

Jakarta adalah kota metropolitan yang dihuni oleh masyarakat heterososial, jadi wajar saja jika masyarakatnya tidak mengenal budaya lokal. Pendapatku? Lucu. Budaya lokal seperti wayang ataupun musik daerah yang ada di tanah pasundan itu sudah ketinggalan jaman. Pendapatku? Lucu. Mengapa lucu? Bukankah memang itu fakta yang harus kita terima?

Pernah dengar kota Tokyo yang ada di Negara Jepang? Di Jepang, Tokyo merupakan kota metropolitan, ya.. sama seperti Jakarta. tapi disana, masyarakatnya memiliki kebanggaan yang tinggi pada budaya lokal mereka, disana masyarakatnya juga berlomba untuk mempelajari, mewariskan serta memajukan budaya lokal mereka, dan semua itu mereka lakukan dengan penuh kebanggan, tanpa ada rasa terpaksa apalagi malu. Lalu bagaimana dengan kota lain serta pedesaan yang ada di Jepang? Sudah dapat dipastikan mereka lebih bangga pada budaya lokal mereka. Bagaimana tidak, masyarakat Jepang yang tinggal di daerah metropolitan saja tidak sedikitpun melupakan budaya lokalnya, apalagi masyarakat daerah yang setiap hari bermobilisasi dengan warna budaya lokal mereka, sudah pasti mereka lebih bangga. Coba lihat, ternyata masyarakat Jepang sudah amat memahami pentingnya budaya dalam membentuk sebuah identitas bangsa. Dan hal tersebut tentu tidak diraih dengan mudah. sejarah telah mencatat semuanya. Bukankah kini anak muda Indonesia kerap merasa bangga saat mengenakan kimono? Bukankah kini anak muda Indonesia lebih merasa tinggi jika makan di restoran sushi? Dan tentu masih banyak ‘bukankah…’ lainnya yang berbau Japanisme.

Bukan tidak boleh untuk mengenal dan menikmati budaya asing, tapi jangan pernah melupakan siapa diri kita. Jika bukan kita yang memajukan budaya lokal Indonesia, lalu siapa lagi? Jika memang budaya lokal Indonesia itu ketinggalan jaman, lalu mengapa kita masih mengenalnya? Mengapa budaya lokal itu ada? Bukankah budaya lokal Indonesia itu sudah ada sejak dulu? Bukankah untuk mencapai jaman ini, budaya lokal itu sudah melewati berbagai jaman? Dan bukankah banyak wisatawan asing yang menyukai bahkan mencintai budaya lokal Indonesia? Lalu dimanakah materi yang dapat mengukuhkan pernyataan bahwa budaya lokal Indonesia itu ketinggalan jaman? Jika wisatawan asing saja bisa sampai mencintai budaya lokal Indonesia, mengapa kita (yang merupakan warga Negara Indonesia) tidak bisa?

Seharusnya budaya lokal menjadi nilai jual bagi Negara Indonesia di dunia Internasional, sehingga dapat meningkatkan devisa Negara. Dan untuk mencapai semua mimpi itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah menanamkan rasa cinta pada budaya kita sendiri. Mari belajar dari keberhasilan Jepang. Rasa nasionalisme mereka telah melahirkan sebuah identitas bangsa yang menakjubkan di mata Internasional. Mari berjuang bersama agar budaya lokal kita tidak punah. Karena hilangnya budaya lokal suatu bangsa, sama saja dengan hilangnya identitas dari bangsa tersebut. Sudikah Anda menjadi bagian dari sebuah Negara yang miskin identitas?

-Putrahadi Nurachman si anak kemaren sore-